15 November 2010

'Haji' Tidak Ada Gunanya Jika...

Orang itu, yang menamakan Salman Rushdie sebagai - profound writer - pernah mengatakan buku - Haji - oleh as-Syahid Dr Ali Syariati menggugah rasanya. Kata orang itu: kupasan pemikir Ali Shariati mengenai ibadah Haji sewajarnya mendorong kita ke arah amal dan perjuangan.

Untuk pembaca yang asing dengan Ali Syariati, beliaulah yang mempesonakan sang eksistensialis primer, filsuf Perancis bernama Jean-Paul Sartre. Kata Sartre, 'Saya tidak punya agama tetapi jika saya ingin beragama saya akan menganut agama (Islam seperti) Syariati.

Berikut ialah fragmen 'Haji' oleh Dr Ali Syariati yang begitu berhubungan dengan ibadah yang penuh dramatik (sedang berlangsung) saat ini:

The fact that Imam Hussein left Mecca for Karbala where he was martyred before completing his Hajj (pilgrimage) duties taught us a more important lesson than Shahadat (martyrdom).

Hajj was a duty that all his ancestors struggled for. Blood was shed to vitalize this tradition. He did not finish the ceremonies and decided to leave and become a Shaheed!

He did not complete his Hajj in order to teach the Hajj makers those who pray and have faith in Ibrahim’s tradition, that if there is no Imamat and there is not true leadership, if there is no goal, if “Hussein” is not there and “Yazid” is there, making Tawaf (Circumambulating) around the house of Allah is equal to making Tawaf around the idol-house. The people who continued their Tawaf while he went to Karbala were no better than those who were circumambulating around the green palace of Muawiyah.

“Hajj”, the tradition of the idol-fighter Ibrahim, in “God’s house” or the “house of the people”-what is the difference? What is happening this year? A warm whirlpool of people are busy circumambulating. All the faces are eager with interest. All the hearts are burning with love. All the people are answering Allah’s invitation. The love of faith, the glory of Islam, the fear of God and punishment of the day of judgment and the desire for worship are pushing the chosen people of the community to circumambulate around the Kaaba.

Among these faces were: the companions of the Prophet (PBUH), some very early Muslims, the heroes of the Jihads, the conquerors of the lands of the unbelievers, those who destroyed the houses of idols on the earth, whose who lived by the Quran and followed the tradition and spiritual leaders. They were all discarding all worldly matters. Fully in love with God, they saw paradise dancing in front of their eyes, houris twinkling at their righteous faces and angels calling upon them from the sky. While Gabriel had his wings under their feet, they were busy circumambulating!

Who is the man who so decisively and angrily comes out of the crowded whirlpool of Muslims and leaves behind the city of “holiness, security and love”? Now that all the Muslims are facing toward the Kaaba, where is he going? Why does he not turn around to see this moving circle where people are cirumambulating the house of Ibrahim to the music of Nimrod and running between Safa and Marwa as a show of their useless efforts. From Arafat, which is the beginning of history, the stage of the first visit of Adam and Eve on earth, they are taken to Mashar in the darkness. In this land of consciousness where these slaves of ignorance should not be, they are asked to sleep all night and by dawn they are moved like the flock of a beast to the land of Mina. The three evils of trinity are located here. As a joke with Ibrahim and a trick to Allah, they throw a few tiny pebbles to the well made-up faces of the three Gods whom they have been worshipping all their lives. They kill the sheep as a symbol of their miserable fate.

They are like beasts and these three gods, taking advantage of the meat, skin mild and wool of this animal, have come to power and decorated their table! These poor people have always been sacrificed upon the demand of these gods and their red blood is shed and poured into the vessels of the green palace, the Zarar Mosque, and the commonwealth of Croesus. At the end, to show their obedience to these gods they should shave their heads!

Oppressors use ignorance as their tools. These are the conservative people whose hands lie soaked in the blood of facts. In the “absence of these people”, in any generation and at anytime there will be ground for “man’s martyrdom”. Evil is hiding itself behind the masks of holiness and righteousness. These are the same Hajj performers who whispered by the idols and sacrificed Ismail in front of Nimrod with their own hands. Then they celebrated the day of “human sacrifice” or “the sacrifice of the Ismail of their time.” They turn their backs to the Kaaba and face Qibla of their miserable life, saying to themselves “the hell with this world”, let’s work for the “paradise of the hereafter”! Feeling happy with the joy of the life after death, they are sound asleep on the warm ashes of the master’s kitchen floor and enjoy the left overs of the plunderer’s table!

Imam Sadiq cicit Saidina Husin ada menyebut, "Tidak ada tempat yang lebih dicintai Allah di muka bumi ini selain tempat di antara Safa dan Marwah. Sebab di sana, setiap orang yang sombong dan angkuh akan tunduk." Menurut Haji Abdul Hadi Awang, Imam Jaafar as-Sadiq adalah sarjana mujtahid, kaya dengan ilmu, warak dan zuhud yang tidak melampau pandangannya (klik sini).

7 comments:

oriotoiro said...

Salam, terima kasih Tn.Hj.Dr.FT atas entri ini.

Sebelum ini, sebagai seorang penganut mazhab pemikiran ala neo-anarkisme dan neo-eksistensialisme yang serba santai, Jean-Paul Sartre adalah pendita besar bagi saya.

Kemudian, beberapa tahun lalu apabila menemukan petikan bahawa Sartre sendiri pernah berkata jika perlu, ia hanya akan memilih agama yang dianuti oleh as-Syahid Dr. Ali Shariati, maka si neo-anarkis kecil-kecilan versi lokal ini kembali menyusuri memori zaman kanak-kanaknya hampir 20tahun lalu ketika kali pertama saya diperkenalkan dengan karya berjudul Haji oleh as-Syahid Dr. Ali Shariati.

Sejak memori itu diselusuri, diselidiki jauh lebih lanjut akan siapakah empunya karya itu, lalu The Hajj atau Haji oleh as-Syahid Dr.Ali Shariati sering menemani kesepian duniawi saya.

Melalui perumpamaan korbannya Hussein, betapa peranan kita menunaikan syahadah di luar musim Haji adalah jauh lebih utama untuk dilaksanakan.

Akhirnya as-Syahid Dr. Ali Shariati menjadi pendita yang lebih besar daripada Sartre dalam proses pembangunan intelektual pasca-belia saya.

Sekali lagi, entri Tn.Hj.Dr.FT kali ini mengembalikan saya kepada imbauan memori tersebut dengan baik sekali. Sebagai insan kerdil yang pernah mempersia-siakan peluang di bidang ilmu dan akademik pada masa lalu, kini saya hanya mampu berusaha memperbaikinya sambil terus menangis dan bersyair rindu.

Duhai Hussein putranya Ali,
Namamu kami kenal sebelum ini,
Tanpa tahu apa kisah & riwayatmu,
Entah bagaimana hayat & syahadatmu,

Akhirnya,
Sejak kami kembali mendekati akan apa erti kewujudanmu,
Jiwa kami tiada lagi henti terus menangis,
Kerna mengenang betapa besar korban agungmu,
Di bumi Karbala, di hari 'Asyura,
Betapa kerdil amal kami, mampukah kami mendekatimu nanti?
Korbanmu itulah pembakar usaha dan amal kami di dunia ini,

Jauh lebih agung korbanmu ya Hussein,
Berbanding korbannya Ibrahim dan putranya Ismail,
Jika Ibrahim diminta mengorbankan hanya seorang daripada putranya,
Diganti pula dengan haiwan buat sembelihan dengan izin Tuhan,

Kerna benarlah Tuhan Maha Mengetahui,
Ternyata ada korban yang jauh lebih agung di kemudiannya,
HakmilikMu ya Hussein,
Di bumi Karbala, di hari Asyura,
Terkorbanlah segalanya yang dikau punyai,
Keluarga, rakan, senjata dan simpanan
Benar firman Allah SWT melalui lisannya Rasulullah SAWW,
Mahkota Cinta & Pengorbanan itu hanya milikMu, ya Hussein...
Dikaulah Sang Merak yang kini mekar di alam Kayangan...

Allahumma solli 'ala Muhammad wa ali Muhammad,
wa 'ajjil farajahum.

Blow d' whistle said...

Salam Dr FT

Selepas membaca entri ini, saya menyelusuri sejarah Battle of Karbala melalui wikipedia(tak pasti samada semuanya betul atau tidak).

Dan saya rasa, apa yang dimaksudkan oleh Dr Ali Shariati itu ada kebenarannya untuk diperhalusi oleh ulama' dan umara' yang ada di dunia sekarang ini.

Adakah sejarah di Malaysia ini seharusnya dalam konteks pemahaman ideologi politik sahaja sedangkan ianya adalah lebih luas dari itu?

Terkedu dan terpana seketika apabila mengetahui Hussein menentang kepada amalan beraja...dan betapa sepatutnya kita mengaplikasi apa yang telah dibawa oleh Iran...

Wallahualam

Ibnu Yunus said...

Blow D'Whistle:

Maaf jika lari dari konteks,tetapi amalan autokrasi-apalagi politik favoritisme sememangnya amat berbahaya.Ia racun bagi perkembangan masyarakat secara berkualiti.

Lobi dan manifesto adalah suatu perkara ganjil;pada permerhatian saya kerana manusia dipilih sepatutnya berdasarkan apa yang telah dia/beliau lakukan,bukan atas apa yang dia akan laksanakan.

Saya cabar mana-mana parti yang mampu bertanding tapa apa-apa manifesto pun..

Amalan autokrasi yang ditentang Dr. Ali Shariati bagi saya bersifat 'artificial'-maksud saya,rakyat harus menerima siapapun raja.

Keberajaan adalah suatu urf dalam metodologi siasah Melayu sememangnya tidak boleh dicabar kedaulatannya,apalagi setelah sistem ini menyumbang pelbagai jasa terhadap sumbangan negara.

Namun,satu yang saya tidak berkenan ialah meletakkan agama di bawah titah Sultan-kalau haram disabda mereka,maka haramlah.Ini sepertinya ada yang tidak kena.

Dua kali imbas,seakan-akan breja sistem teologi dahulukala,di mana Sultan berkuasa menghalal-haramkan hal-hal agama.

Perluasan fahaman Syiah (yang menurut saya semakin kelihatan progresif di Malaysia) memungkinkan rasa terusir kaum Syiah.Dan silap-silap,dianggap menderhakai Sultan.

Jadi elok kiranya jika sebuah kementerian Agama ditubuh untuk memberi ruang yang lebih liberal dalam membincangkan perihal agama.

Kemutlakan Undang-Undang Persekutuan juga amat menakutkan.Apalah makna 'negara rakyat' jika dalam asas judisiari,kuasa kita terbatas (mengingati kebenaran bertukar agama setelah berumur 18 tahun ke atas).

Ampun Sultan,beribu-ribu ampun,patik hanya menyuarakan pendapat patik.Jika ada silap dan salah,jangan tuanku murka..patik tidak berniat menggugah kewibawaan tuanku.Patik cuma sayangkan negara ini..

Ibnu Yunus said...

Dr FT,saya jumpa sesuatu yang mnarik diYouTube..bukan video Siti Nurhaliza,bukan juga lagu 'Kian' dendangan Mawi.Cuba Dr taip 'convert to' di kotak carinya..youtube pun suda convert.Haha

Ibnu Yunus said...

maaf,taip 'convert'

Adilla Harun said...

Salam Aidiladha!. Mengulas tajuk di atas, saya terifikirkan tentang program Halaqah, TV 9 malam tadi. Panelnya Dr. Azhar Hj. Sarip membincangkan tentang di sebalik Haji. Banyak yang saya pelajari dari program itu. Teori-teori Dr. Azhar memang sesuatu yang baru. Beliau juga salah seorang kolumnis di MIngguan Wanita. Di situ saya 'kenal' beliau. Namun ia dapat diterima akal. Saya percaya dia bercakap berdasarkan ilmunya.

Kesimpulannya mengatakan bahawa ibadah haji itu bukan dinilai dari perbuatannya sahaja namun yang penting adalah 'PENGHAYATAN' ke atas setiap perbuatan-perbuatan dalam ibadah tersebut. Kita perlu melakukannya satu persatu tanpa tergesa-gesa dan menghayati dengan penuh keinsafan dan kesyukuran sebagai hamba Allah. Harap pemahaman saya ini benar. Insyaallah...

Blow d' whistle said...

Salam Dr FT

Cuma hendak bertanya pendapat Dr tentang Daulah...datangnya dari Islam(jgn jawab jwpn umum dr Allah s.w.t) atau dari Raja?

Kpd Ibnu Yunus...kerajaan berhadapan dilema apabila mengisytiharkan Malaysia negara Islam...kenapa? Sebab terpaksa pisahkan kuasa agama kepada 'state authority' dan bukannya 'federal authority'! Disini apabila memperkatakan tentang sebuah kementerian 'agama' maka....penganut agama lain juga akan mahu 'share' yang sama...apakah patut negara Islam berkelakuan 'sebegitu'?

Wallahualam